Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Welcome


Flag Counter

free counters

Senin, 12 Maret 2012

Kaos





Bonek









Kamis, 08 Maret 2012

Bonex







Bonex


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...





Surabaya (beritajatim.com) - Peran trio pemain mungil, Taufiq, Rendi Irwan dan Andik Vermansyah sangat vital di tim Persebaya. Ketiganya dianggap sebagai mesin sekaligus nyawa tim.
umat (24/2/2012) malam nanti, Persebaya akan diuji. Mereka tidak bisa menampilkan ketiga pemain itu saat menjamu Tim Nasional (Timnas) Indonesia di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT).
Andik, Rendi dan Taufiq bergabung dengan Timnas. Andik terbang ke Brunei bersama tiga kompatriotnya, yakni Nur Fasta dan Miko Ardiyanto. Mereka menjadi tulang punggung Timnas U-21 di turnamen Hassanal Bolkiah Trophy. Andik akan berada di Brunei hingga medio Maret mendatang.
Sedangkan Taufiq dan Rendi dipanggil seleksi Timnas pra Piala Dunia 2014. Bersama Aulia Ardli, mereka akan bentrok lawan timnya sendiri, Persebaya di hadapan suporter yang selama ini mengeluh-eluhkan nama mereka, Bonek. Kehilangan keenam pemain ini dirasa merugikan Persebaya. Utamanya tiga pemain mungil, Andik, Rendi dan Taufiq.
"Ruh Persebaya saat ini ya Rendi, Taufiq dan Andik," aku asisten pelatih Persebaya, Ibnu Grahan.
Ibnu menyebut, Timnas semakin kuat dengan hadirnya Rendi Irwan dan Taufiq. Diprediksi kedua pemain ini akan menjadi tulang punggung tim Garuda. Sedangkan bagi Persebaya, kehilangan Rendi dan Taufiq, serta Andik membuat lini tengahnya meninggalkan lubang. Tapi tim pelatih sudah menyiapkan beberapa alternatif pemain untuk menggantikan keduanya.
Absennya ketiga pemain ini membuat tim pelatih harus berputar otak. Sejumlah nama dipersiapkan untuk menggantikan ketiganya, seperti Edy Gunawan, Jusmadi, Wirya Kumandra dan Amaral. "Saya kira lini tengah akan menentukan hasil pertandingan di Bung Tomo," terang Ibnu
.

Asal usul perselisihan Bonek Vs Arema

Kisah ini paling tidak saya alami secara pribadi,dimana waktu itu saya masih sekolah SD kelas 4 ato 5 (lupa pastinya) yang waktu itu saya berangkat ke malang dengan saudara saya.Namun kejadian di depan stadion di malang tidak pernah saya lupakan sampai akhir hayat. Awal ceritanya simpel saja,di kompetisi ligina (dulu liga dunhill) terbagi 2 putaran yang mempertemukan persebaya vs persema (leg 1) di Surabaya.Pada saat itu aremania diberi quota di tribun sebelah kanan VIP (BC),pada intinya panpel (baca:suporter persebaya) menerima dengan baik kedatangan suporter malang di Surabaya.Tetapi disaat putaran ke 2 dan Persebaya away ke malang,otomatis kita (suporter surabaya) ikut mendampingi Persebaya tanding di malang.Namun disinilah petaka terjadi,bagaikan air susu yang dibalas dengan air aki (saking hinanya).Rombongan suporter persebaya yang sudah berada di depan pintu masuk stadion tiba2 diusir paksa dan dikeroyok oleh suporter/warga malang.Padahal harapan kami mereka juga bisa menerima dan memberi kita quota masuk stadion seperti yang panpel Surabaya lakukan,tapi karena sikap mereka yang seperti tidak mau tau dengan semua itu membuat mereka tanpa ampun mengusir, menginjak2, dan menjadikan suporter Persebaya yang jumlahnya lebih sedikit dari suporter malang sebagai sansak hidup tepat di depan gerbang masuk stadion.Hanya satu alasan mereka,"STADION TIDAK CUKUP".Tapi apakah harus dengan cara kekerasan???.

Ini sekilas sejarah Persebaya dan Arema.

arema lahir thn 1987,sedangkan persebaya lahir jauh sebelum kemerdekaan arema di galatama,persebaya di perserikatan.jadi ga pernah ketemu sebelum era ligina. Musuh bebuyutan bonek jaman perserikatan dulu adalah bobotoh (Bandung) dan (SneX) semarang...

kalo luar jawa ada makasar (MaczMan) dan medan (KamPak).

ga ada ceritanya dgn malang.. karna persema nomer 2 di jatim (arema ga ikut perserikatan mas)!!

Semua di mulai saat nurkiman pemain persebaya di ketapel suporter malang...sehingga waktu persema main di gresik lawan persegres di balas sampe ada satu suporter malang mati!.Hal itu berlanjut..balas membalas,,,lucunya yg sebelumnya bonek dgn persema (beda kan aremania dgn persema?..suporter persema ngalamania) aremania ikut2an.

tp di byk kesempatan aremania selalu ngeles opini diketapelnya nurkiman..dgn alasan thn 2000 saat bonek kirim surat terbuka ke semua preman malang...untuk berani ga dtg ke surabaya (sampe skrg pun sepertinya tantangan itu ga terjawab..malang ga pernah berani dtg ke surabaya)

inget mas...arema lahir thn 1987...ga ada sejarah panjang bermusuhan lawan bonek..yg ada permusuhan surabaya vs malang yg dibawa arema ke sepak bola

kita tau surabaya kota terbesar di jatim..byk penduduk jatim lebih bangga dgn persebaya drpd arema (jelas lah di galatama aja niac mitra lebih jago)

hal ini yg ga bisa di terima anak2 malang...menjadi nomer 2 di jatim..

diperparah dendam preman2 malang dan arek2 suroboyo saat ada konser rock..setiap ada konser rock thn 80-90an pasti saja rusuh ga di surabaya..ga di malang.

tambahan buat yg ga tau...nurkiman (pemain Persebaya) di ketapel sampe buta mata kirinya dan pensiun dr sepakbola padahal usianya baru 20an...ga sampe 25.Dan pada saat itu Persebaya menang 0-1 saat away ke Malang

Bonek Biang Pertempuran 10 November

ISTILAH bonek dikenal sejak 1990-an. Bonek atau bondo nekat untuk menjuluki para suporter sepak bola yang tidak memiliki bekal atua modal (bondho). Namun mereka tak surut (nekat) untuk membela tim kesayangannya.

Perilaku bonek sebenarnya warisan turun-temurun yang berlangsung cukup lama. Perilaku ini bermigrasi dari masyarakat yang hidup di pinggiran sungai Brantas yang membentang dari Kediri sampai Surabaya.

Bentangan wilayah inilah yang kemudian dikenal sebagai ekologi budaya Arek. Cakupan wilayahnya membentang dari pesisir utara di Surabaya hingga ke daerah pedalaman selatan, daerah Malang. Wilayah ini tergolong paling pesat perkembangan ekonominya, 49 persen aktivitas ekonomi Jatim ada di sini. Tak heran bila arus migrasi dari wilayah lain banyak masuk ke kawasan ini.

Bentangan ini kemudian oleh budayawan Ayu Sutarto disebut salah satu sub kultur yang ada di Jawa Timur, yaitu subkultur Arek. Arek sebagai salah satu kekayaan kultur Jawa Timur memiliki karakteristik yang keras khas pesisiran.

Karakter keras tersebut pun lebih pada sikap pantang menyerah, ngeyel, dan keteguhan mempertahankan pendapat serta prinsip sebagai wujud penghargaan tertinggi mereka terhadap harga diri.

Karena banyak bersentuhan dengan pendatang dari latar budaya, mereka membentuk budaya yang khas, budaya komunitas Arek. Mereka mempunyai semangat juang tinggi, solidaritas kuat, dan terbuka terhadap perubahan.

Karakter semacam ini dijelaskan oleh Autar Abdillah sebagai perpaduan hegemoni Mataram dan kerasnya alam yang membentuk budaya Arek. Autar memaparkan itu dalam tesisnya berjudul Hegemoni Mataram Terhadap Budaya Arek. Menurut Autar, tantangan alam yang keras selama lebih dari lima abad membuat mental dan karakter generasi Arek praktis menjadi begitu teruji.

Budaya Arek, menurut dosen Sendratasik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini, mengalami proses pembentukan yang panjang. Proses pembentukan itu bisa ditelusuri lewat buku Von Faber berjudul Er Werd Een Stad Geboren (1953). Di dalamnya terdapat pembabakan proses terbentuknya budaya Arek yang didasarkan pada peta yang dibuat pemerintah koloni sejak abad ke-9.

Setidaknya ada tiga peta yang telah dibuat, yakni abad ke-9, abad ke-10 dan abad ke-13. Ketiga peta ini merupakan sumber penting untuk memetakan perkembangan kondisi Surabaya, berikut karakter masyarakatnya.

Lebih jauh Autar menceritakan, sebelum seperti sekarang, kondisi Surabaya yang dulu, tepatnya di abad ke-4, masih berupa gugusan pulau kecil. Beberapa pulau yang kini menjadi kampung seperti Wonokromo, Ngasem, Rungkut, Bungkul, dan Bagong merupakan bukti bahwa sebenarnya kehidupan masyarakat Surabaya pada masa itu tidak bisa seperti sekarang yang dengan mudah bepergian dari satu kawasan ke kawasan lain.

Dominasi peraturan serta konvensi Majapahit dengan doktrin Hindu-Jawanya yang pada masa itu memang mengakar begitu kuat membuat munculnya banyak sekali pelanggaran-pelanggaran. Itulah latar belakang akhirnya dibangun sebuah penjara yang berada di kawasan Domas, sebuah pulau yang terletak di sebelah utara Bungkul dan Dadungan, meskipun kini baik kawasan Domas maupun Dadungan sudah lenyap, entah benar-benar lenyap atau berganti nama. Sedangkan kawasan Bungkul tetap ada hingga kini, hanya saja semakin bertambah luas wilayahnya.

Penjara Domas tersebut terbagai menjadi 8 tingkatan, mulai tingkatan awal yang merupakan tempat bagi narapidana yang sama sekali belum bisa dididik hingga menjadi masyarakat yang taat. Sampai pada tingkat terakhir yang merupakan tempat penggodokan atau pengayaan bagi narapidana yang sudah mulai bisa dikembalikan ke jalan yang sesuai dengan aturan yang ada.

Penjara Domas tersebut ditengarai merupakan penjara pertama yang menggunakan sistem hukuman kurung. Saking kerasnya, di penjara bagian awal, kecil kemungkinan bagi narapidana untuk bisa bertahan hidup.

Betapa tidak, dalam penjara yang terletak di pulau kecil sebelah utara Domas, di mana pulau tersebut akan tenggelam jika air laut sedang pasang. ”Jadi tidak mungkin narapidana yang dipenjara di sana bisa selamat,” kisah Autar.

Meski demikian, masih ada juga narapidana yang bisa selamat dari kepungan air laut yang pasang. Narapidana yang bisa selamat itu kemudian terus naik hingga ke tingkat paling akhir, untuk kemudian dilepas kembali ke masyarakat.

Narapidana yang berhasil lolos dari penjara bagian awal tersebut bisa dikatakan merupakan narapidana-narapidana yang memiliki semacam kesaktian, yang kebanyakan setelah menempuh kedelapan bagian penjara Domas. Mereka kemudian menempati wilayah Bungkul. Inilah yang kemudian membuat Bungkul menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki kesaktian.

Kerasnya kehidupan di Domas memang ditengarai yang memicu karakter keras dan pantang menyerah dari masyarakat Surabaya yang memang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi.

Belum lagi ditambah tantangan alam yang sepertinya tidak pernah bersahabat dengan masyarakat waktu itu. Dalam kurun waktu lebih dari 431 tahun, mereka harus mengalami dampak dari 22 kali letusan Gunung Kelud. Lahar dingin yang terus membanjiri sungai, ditambah hujan abu yang begitu sering terjadi, membuat hidup mereka semakin susah.

Kesusahan hidup inilah yang secara lebih dari empat abad menempa dan membentuk mereka menjadi manusia yang kuat, tidak pantang menyerah, dan loyal pada tempat tinggalnya. Hingga akhirnya endapan lahar dingin Gunung Kelud semakin mempersatukan pulau-pulau yang terpisah itu menjadi satu daratan, dengan tambahan beberapa reklamasi yang dilakukan sendiri oleh warga.

”Meski susah, mereka tetap bertahan di tempat tinggal mereka,” ungkap Autar.

Hingga akhirnya masuklah invasi Mataram di tahun 1622-1625. Invasi ini setidaknya membawa pengaruh pada masyarakat, baik secara struktural, maupun secara kultural. Perubahan yang paling menonjol adalah perubahan dalam aspek kultural, dalam hal ini adalah bahasa dan tata hubungan masyarakat.

Kawasan sekitar sungai Brantas yang semula berkarakter egaliter, tanpa kelas, apa adanya, yang bisa dilihat dari bahasa yang mereka pakai yang juga merupakan bahasa Jawa ngoko, bahasa yang tidak membedakan kelas, berubah total setelah masuknya Mataram.

Invasi Mataram kemudian mengubah kebiasaan mereka. Bahasa yang mereka pakai pun perlahan terpengaruh oleh bahasa khas Mataraman, yang lebih halus dan memiliki strata bahasa yang sangat terstruktur.

Hal ini disebabkan hegemoni yang dilakukan Mataram dengan menempatkan ‘raja-raja kecil’ untuk menguasai wilayah-wilayah yang ada di sekitar sungai Brantas.

Ini dibenarkan oleh Akhudiat. Budayawan asal Surabaya ini mengisahkan bahwa setelah Majapahit ditaklukkan Mataram di masa pemerintahan Pangeran Pekik, praktis Mataram pun kemudian menguasai Surabaya dan daerah lain di sekitar sungai Brantas. Hingga akhirnya Surabaya pun saat itu dikuasai Unggul Sawelas, sebelas pemimpin Mataram.

Berbeda dengan wilayah yang berada di sisi barat sungai Brantas, wilayah di sisi sebelah timur sungai Brantas memang cenderung lebih susah ditaklukkan. Kebanyakan masyarakat di wilayah ini merupakan orang-orang buangan yang memiliki kekuatan baik fisik maupun metafisik.

Dengan modal inilah kemudian karakter Arek yang sudah tertanam dalam diri mereka dapat ’sedikit’ dipertahankan. Hingga akhirnya sampai kini masih bisa setia dilestarikan oleh masyarakat di daerah pesisir sungai Brantas, mulai Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Jombang, Mojokerto, Pasuruan, Malang, Kediri, dan Blitar.

”Maka muncullah budaya Arek yang meliputi wilayah dari Surabaya hingga Kediri dan Blitar,” ungkap Autar.

Memang, khusus Kediri dan Blitar, tergolong kasus yang unik. Betapa tidak, dua kota ini pada dasarnya memiliki dua kultur yang bertolak belakang. Meski bahasa dan dialek yang mereka gunakan menganut bahasa khas Mataraman yang halus dan berstrata, namun karakter asli beberapa dari mereka, seperti masyarakat yang berada di lereng Gunung Kelud dan pesisir sungai Brantas, tidak dapat dipungkiri, benar-benar khas Arek. Pantang menyerah, ngeyel, dan begitu teguh memegang prinsip serta pendapatnya.

”Khas Majapahitan, yang selalu merasa lebih unggul dari kaum mana pun,” tegas Akhudiat.

Jadi, falsafah bonek, yakni bondo nekat sebenarnya merupakan sebuah wajah asli dari masyarakat pesisir sungai Brantas, khususnya Surabaya.

Hingga tidak bisa dipungkiri, semangat pantang menyerah dan keteguhan memegang prinsip dan harga diri mereka merupakan faktor utama pecahnya perang 10 November 1945 yang ditengarai merupakan tonggak awal munculnya istilah Arek.

Oleh karena itulah, perang revolusi 10 November 1945 bukanlah tonggak awal, melainkan lebih merupakan titik kulminasi dari munculnya karakter dan budaya Arek tersebut. ”Gara-gara kekerasan kepala masyarakat Surabaya yang tidak mau mematuhi ultimatum Mansergh, pecahlah perang besar 10 November 1945,” pungkas Autar. *

Kamis, 01 Maret 2012


Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir di Jakarta, 3 September 1961; umur 50 tahun) adalah seorang Penyanyi beraliran balada dan Country yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia.
Lewat lagu-lagunya, ia 'memotret' suasana sosial kehidupan Indonesia di akhir tahun 1970-an hingga sekarang, serta kehidupan dunia pada umumnya, dan kehidupan itu sendiri. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Namun demikian, Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya sendiri tetapi juga sejumlah pencipta lain.
Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.
Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum 'akar rumput'. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktivitas para penggemar Iwan Fals. Hingga sekarang kantor cabang OI dapat ditemui setiap penjuru nusantara dan beberapa bahkan sampai ke manca negara

Profil Iwan Fals

Aku lahir tanggal 3 September 1961. Kata ibuku, ketika aku berumur bulanan, setiap kali mendengar suara adzan maghrib aku selalu menangis. Aku nggak tau kenapa sampai sekarang pun aku masih gambang menangis. Biar begini-begini, aku orangnya lembut dan gampang tersentuh. Sebagai contoh, menyaksikan berita di televisi yang memberitakan ada orang sukses lalu medapatkan penghargaan atas prestasinya, aku pun bisa menangis. Melihat seorang ibu yang menunjukkan cinta kasihnya pada anaknya, juga bisa membuat aku tersentuh dan lalu menangis

Bicara perjalanan karir musikku, dimulai ketika aku aktif ngamen di Bandung. Aku mulai ngamen ketika berumur 13 tahun. Waktu itu aku masih SMP. Aku belajar main gitar dari teman-teman nongkrongku. Kalau mereka main gitar aku suka memperhatikan. Tapi mau nanya malu. Suatu hari aku nekat memainkan gitar itu. Tapi malah senarnya putus. Aku dimarahi.

Sejak saat itu, gitar seperti terekam kuat dalam ingatanku. Kejadian itu begitu membekas dalam ingatanku.

Dulu aku pernah sekolah di Jeddah, Arab Saudi, di KBRI selama 8 bulan. Kebetulan di sana ada saudara orang tuaku yang nggak punya anak. Karena tinggal di negeri orang, aku merasakan sangat membutuhkan hiburan. Hiburan satu-satunya bagiku adalah gitar yang kubawa dari Indonesia. Saat itu ada dua lagu yang selalu aku mainkan, yaitu Sepasang Mata Bola dan Waiya.

Waktu pulang dari Jeddah pas musim Haji. Kalau di pesawat orang-orang pada bawa air zam-zam, aku cuma menenteng gitar kesayanganku. Dalam perjalanan dalam pesawat dari Jeddah ke Indonesia, pengetahuan gitarku bertambah. Melihat ada anak kecil bawa gitar di pesawat, membuat seorang pramugari heran. Pramugari itu lalu menghampiriku dan meminjam gitarku. Tapi begitu baru akan memainkan, pramugari itu heran. Soalnya suara gitarku fals. "Kok kayak gini steman-nya?" tanyanya. Waktu itu, meski sudah bisa sedikit-sedikit aku memang belum bisa nyetem gitar. Setelah membetulkan gitarku, pramugari itu lalu mengajariku memainkan lagu Blowing in the Wind-nya Bob Dylan.

Waktu sekolah di SMP 5 Bandung aku juga punya pengalaman menarik dengan gitar. Suatu ketika, seorang guruku menanyakan apakah ada yang bisa memainkan gitar. Meski belum begitu pintar, tapi karena ada anak perempuan yang jago memainkan gitar, aku menawarkan diri. "Gengsi dong," pikirku waktu itu. Maka jadilah aku pemain gitar di vokal grup sekolahku.
Kegandrunganku pada gitar terus berlanjut. Saat itu teman-teman mainku juga suka memainkan gitar. Biasanya mereka memainkan lagu-lagu Rolling Stones. Melihat teman-temanku jago main gitar, aku jadi iri sendiri. Aku ingin main gitar seperti mereka. Daripada nggak diterima di pergaulan, sementara aku nggak bisa memainkan lagu-lagu Rolling Stones, aku nekat memainkan laguku sendiri. Biar jelek-jelek, yang penting lagu ciptaanku sendiri, pikirku.

Untuk menarik perhatian teman-temanku, aku membuat lagu-lagu yang liriknya lucu, humor, bercanda-canda, merusak lagu orang. Mulailah teman-temanku pada ketawa mendengarkan laguku.

Setelah merasa bisa bikin lagu, apalagi bisa bikin orang tertawa, timbul keinginan untuk mencari pendengar lebih banyak. Kalau ada hajatan, kawinan, atau sunatan, aku datang untuk menyanyi. Dulu manajernya Engkos, yang tukang bengkel sepeda motor. Karena kerja di bengkel yang banyak didatangi orang, dia selalu tahu kalau ada orang yang punya hajatan.

Di SMP aku sudah merasakan betapa pengaruh musik begitu kuat. Mungkin karena aku nggak punya uang, nggak dikasih kendaraan dari orang tua untuk jalan-jalan, akhirnya perhatianku lebih banyak tercurah pada gitar. Sekolahku mulai nggak benar. Sering bolos, lalu pindah sekolah.

Aku merasakan gitar bisa menjawab kesepianku. Apalagi ketika sudah merasa bisa bikin lagu, dapat duit dari ngamen, mulailah aku sombong. Tetapi sesungguhnya semuanya itu kulakukan untuk mencari teman, agar diterima dalam pergaulan.

Suatu ketika ada orang datang ke Bandung dari Jakarta. Waktu itu aku baru sadar kalau ternyata lagu yang kuciptakan sudah terkenal di Jakarta. Maksudku sudah banyak anak muda yang memainkan laguku itu. Malah katanya ada yang mengakui lagu ciptaanku.

Sebelum orang Jakarta yang punya kenalan produser itu datang ke Bandung, aku sebetulnya sudah pernah rekaman di Radio 8 EH. Aku bikin lagu lalu diputar di radio itu. Tapi radio itu kemudian dibredel.

Setelah kedatangan orang Jakarta itu, atas anjuran teman-temanku, aku pergi ke Jakarta. Waktu itu aku masih sekolah di SMAK BPK Bandung. Sebelum ke Jakarta aku menjual sepeda motorku untuk membuat master. Aku tidak sendirian. Aku bersama teman-teman dari Bandung: Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul.

Kami lalu rekaman. Ternyata kasetnya tidak laku. Ya, sudah, aku ngamen lagi, kadang-kadang ikut festival. Setelah dapat juara di festival musik country , aku ikut festival lagu humor. Kebetulan dapat nomor. Oleh Arwah Setiawan (almarhum) lagu-lagu humorku lalu direkam, diproduseri Handoko. Nama perusahaannya ABC Records. Aku rekaman ramai-ramai, sama Pepeng (kini pembawa acara kuis Jari-jari, jadi MC, dll), Krisna, dan Nana Krip. Tapi rekaman ini pun tak begitu sukses. Tetap minoritas. Hanya dikonsumsi kalangan tertentu saja, seperti anak-anak muda.

Akhirnya aku rekaman di Musica Studio. Sebelum ke Musica, aku sudah rekaman sekitar 4 sampai 5 album. Setelah rekaman di Musica itu, musikku mulai digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani Willy Soemantri.